Minggu, 24 Desember 2017

HENTI

Henti ...
Kuputuskan dalam sebuah suksesi,
Dalam sebuah logika dan deru hati.
Menyala, mengobar, dalam ruang stagnanisasi.

Menghenti ...
Memaksa seluruh jiwa terus sembunyi
Hanyalah KENISTAAN yang terus menghantui
Ketakutan ini, Gelisah ini, Emosi ini
Menyeruak menghujam hingga nurani mati.

Berhenti ...
Menjadi pecundang pongah, mengangkang berantakan!
Kau Gadisku, namun hilang secara serampangan
Memang gila,
Hanya lelaki Idiot, dalam ketakutan menembus kegelapan.
Tak layakkah ku persanding denganmu?
Padahal hirarki tenggelam dalam kebohongan.

Tuhan ...
Beri ku kesempatan menawar pagi





Rabu, 20 Desember 2017

ANALISIS KONOTATIF KARYA KENDRA PADA TEMPO

                                     
                               Cover Majalah Tempo | Edisi 20-26 November 2017.
                                       Original Illustrator : Kendra Paramita
                                                              Jakarta.



          Intrik dan drama politik, menjadi salah satu konsumsi media massa terbesar masyarakat Indonesia. Setiap hari selalu saja aja ada permasalahan yang muncul dan diangkat ke ranah publik lewat media massa dalam kaitannya dengan politik, namun tentu saja ini bukanlah wajah asli bangsa kita yang seolah selalu saja penuh drama politis yang terus di besar-besarkan dan tak sedikit hingga mengakibatkan perselisihan antar sesama sebangsa.

Namun pada tulisan ini tidak akan dibahas tentang isu politik yang sepertinya takkan ada habisnya, yang selalu mencuri perhatian ialah salah satu media cetak nasional yang terus konsisten mengangkat isu politik, menjadi  seakan publik dibuat terus penasaran dengan isi berita yang ia sajikan hanya dengan melihat illustrasi cover depan majalah tersebut, dialah majalah Tempo.

Majalah tempo sangat mencuri perhatian publik lewat karya-karya illustrasi yang ia tampilkan lewat cover maupun isi nya. Dan salah satu illustrator dibalik keganasan karya-karya tempo ialah "Kendra Paramita". pria lulusan Institut Kesenian Jakarta telah bekerja di Tempo dalam kurun waktu 13 tahun lamanya, tak heran jika karya illustrasi yang ia suguhkan sudah sangat berkelas kualitasnya.

Namun garis besar dari pembahasan pada tulisan ini ialah kita akan melihat dari sudut pandang tajam untuk melihat seberapa relevan kah karya illustrasi tersebut sebagai konsumsi publik dalam contoh gambar cover majalha tempo yang telah ditampilkan diatas. 

         Pada kurun waktu di akhir tahun 2017 ini,  publik sedang digemparkan dengan kasus korupsi mega proyek E-KTP  dan mencatut nama-nama pesohor publik diantaranya pemimpin tertinggi DPR sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto, namun dalam proses hukumnya, Setya Novanto dinilai memanipulasi dan tak taat hukum.

Dari garis besar topik tersebut Tempo dengan illustrator Kendra Paramita mencoba menggambarkan polemik tersebut diwujudkan dalam illustrasi cover majalah yang ia sebarkan. Dalam illustrasi tersebut sangat ditonjolkan figur Setya Novanto dengan memakai jas hitam dalaman hem berwarna kuning sedang memegang dua buah piala dengan ekspresi perayaan kemenangan layaknya mendapatkan piala Oscar. 
Terdapat satu headline besar yang ditulis "Satu Perkara Seribu Drama" juga diimbuhi footnote "beberapa jam sebelum disergap KPK, Setya Novanto menghilang mendapat bocoran dari orang dalam?".

Dari beberapa clue diatas kita bisa menjabarkan bahwa illustrator menggunakan makna konotatif, dimana ia menggunakan sindiran dari kejadian yang sebenarnya. Jas hitam rapi berkonotasi tentang kehormatan dan kedudukan yang di emban subjek, kemudian Hem berwarna kuning, Kuning merupakan warna simbolis dari partai yang ia pimpin. Dengan membawa dua buah piala penghargaan berkonotasi bahwa subjek telah berhasil mengelabuhi proses hukumnya hingga saat ini dan dikuatkan dengan ditunjukkan wajah yang penuh kebanggaan. Dari sedikit clue tersebut kita telah dapat menangkap pesan yang disampaikan sang illustrator dalam karyanya.

Berlanjut pada text yang disajikan dalam cover tersebut, Headline "Satu Perkara Seribu Drama" ditampilkan dengan warna keemasan, disini terasa agak sedikit janggal tentang pemaknaan warna yang ditampilkan, warna emas identik dengan kejayaan/kemewahan, jika sang illustrator masih tetap mempertahankan makna konotatif, dalam konteks isu hukum dan tata negara setiap warga negara sama kedudukannya dan yang bersalah akan di hukum.
Jika begitu makna kejayaan dalam warna emas dirasa kurang tepat karena pada akhirnya jika subjek bersalah harus tetap dihukum dan kejayaan disini akan terpatahkan dan tidak sesuai.

Kemudian judul majalah Tempo dibuat besar dan tebal berada di bagian atas, kemudian huruf O pada judul tertup sebuah gambar kaki yang seakan sedang menginjak. secara pemaknaan huruf O merupakan satu-satunya huruf yang tak berujung, juga bisa dikaitkan dengan "meja bundar" yang berarti konferensi. disini bisa ditarik pemaknaan bahwa Tempo berharap penegak hukum segera menuntaskan polemik yang dirasa tak berujung lewat peradilan yang seadil-adilnya.
Kemudian disisipkan sub judul text dalam  berita yang dirasa menarik pembaca.

Beralih pada background dasar cover berwarna krem kekuningan, ini merujuk warna yang hangat dan bisa diasosiasikan sebagai warna tua/berumur yang membmerikan kesan vintage. illustrator disisi lain mengejar kesan keseimbangan senada, seakan dapat dipahami bahwa Tempo ingin menunjukkan bahwa berita yang ia sajikan berdasarkan pada kajian dan sumber yang kredibilitasnya teruji.

Sisi lain dari elemen visual yang menonjol pada karya cover tersebut yaitu lis horisontal merah menyala pada pojok kanan cover, kita tahu bahwa warna merah salah satu warna identitas dari majalah Tempo, dan dalam karya tersebut illustrator cerdas memainkan warna tersebut yang seakan publik langsung tahu bahwa itu merupakan majalah original Tempo.

Secara keseluruhan, Kendra Paramita berhasil membawa karyanya menjadi sebuah identitas dari majalah Tempo, ia sangat piawai dalam merekonstruksi sebuah kejadian/isu dalam makna konotatif yang membuat setiap orang tergelitik untuk berfikir dan membuat paradigma baru. Namun dalam hal Layout text terdapat sedikit ketidak-sesuaian dan konsistensinya.

Dengan demikian Kendra Paramita menjadi salah satu illustrator Jurnalistik Nasional yang patut selalu diperhitungkan dalam setiap karya-karyanya untuk generasi muda sekarang ini.
Salam !



Selasa, 01 Maret 2016

CATATAN SEJARAH PRIBADI

illustration watercolor painting
29,7 x 42 cm on linen
by imsat



          Sudah sejak terakhir kali aku menulis pada 19 januari lalu, rasanya terlalu lama sekali untuk memulai merangkai kata demi kata menjadi sebuah dokumentasi perjalanan hidupku selama ini. Mungkin diriku hanya satu dari berjuta-juta manusia yang menginginkan pendokumentasian perjalanan hidupnya untuk suatu ketika diulas kembali pada zaman bahkan peradaban yang baru pula, entah itu ketika kita masih menjadi sumber sejarah yang nyata atau hanya sebuah kenangan belaka.

Perihal apakah itu semua keinginan yang sangat berbau narsistik ataukah memang sesuatu yang memang harus ada untuk jejak sejarah diri kita sendiri bagiku semua akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya, namun satu hal yang sangat tidak diijinkan dalam  pencatatan pendokumantasian tersebut adalah melebih-lebihkan segala sesuatu yang akan membuat kerancuan dalam orisinilitas-an pendokumentasian sejarah tersebut.

Salah satu pembentuk konten pendokumentasian sejarah pribadi diri sendiri menurutku adalah pencapaian dalam hidup. pada umumnya kita akan gembira ketika berhasil melakukan pencapaian suatu hal yang memang benar - benar kita usahakan terlebih lagi espektasi yang dimunculkan pikiran kita lebih minim dibanding realita yang telah kita capai, barang tentu hal tersebut menjadi catatan sejarah pribadi yang sangat perlu untuk di dokumentasikan karena di dalamnya akan terdapat rangkaian cerita yang menarik dan bernada positif.

Merujuk pada diriku sendiri, hal yang kuanggap sebagai pencapaian adalah karya - karya yang terus aku hasilkan dan memiliki progres estetik yang terus menanjak. Bagiku karya visual yang melibatkan imajinasi, intuisi, serta pengendalian emosi yang tinggi akan menciptakan hasil karya yang akan melampaui espektasi dari bayangan yang telah difikirkan lalu. Sebagai koreksi ketika menciptakan karya visual apapun aku tidak akan mematok hasil yang sangat indah di dalam kepalaku, namun aku memikirkan yang sangat indah ketika aku mulai berproses menciptakan karya visual tersebut, selama berusaha dan yakin maka hasil dari berproses secara demikian membuatku dapat terus gembira akan hasil yang aku ciptakan, dan dari sanalah aku dapat menjadikannya sebagai catatan sejarah pribadiku yang mungkin suatu saat akan ada yang membukanya, setidaknya aku berusaha menampilkan senatural mungkin yang sesuai dengan realita yang aku alami di waktu itu.


Selasa, 19 Januari 2016

Artwork illustration by imsat


              Adalah sebuah pria dalam karakter film interstellar yang menurut pendapatku dia adalah seorang yang jenius, pekerja keras, sangat menyayangi keluarganya, namun melalukan tindakan apapun demi kelangsungan sesuatu yang dianggap dia benar meskipun itu tindakan yang salah.

Menurut pendapatku film tersebut memiliki plot cerita yang kreatif dan tidak dapat terduga penonton, disamping effek kamera dan motion graphic yang sangat bagus, ditunjang efek sound yang sangat mengena di hati membuat film ini begitu menegangkan untuk penikmatnya.

Namun satu hal yang aku agak sesalkan tentang ending yang menurutku anti klimaks, ending yang bagus sudah ditampilkan, namun belum dapat menopang keseimbangan dari isi film tersebut yang menurutku bisa sangat jauh lebih baik lagi. namun bagiku ini salah satu film sci-fi terbaik selama ini yang pernah aku lihat.

Terlepas dari ulasan diatas, aku sangat menyukai dan mengapresiasi setiap detil dari film tersebut karena bukan perkara mudah  untuk menciptakan sebuah karya besar seperti itu, maka dari itu sedikit fanart aku buat untuk mewakili rasa kagumku terhadap karya sebesar itu, dan semoga dapat menjadi berguna dan menginspirasi bagi siapapun.
Terimakasih

Senin, 11 Januari 2016

Cerita Andy F. Noya

(Artwork by imsat)
Watercolor 29,7x42 cm
on Linen

                    Andy Flores Noya, pertama kali kulihat beliau di siaran program Talk Show di Tv yang identik dengan berita, mungkin saat itu aku masih kelas 1 SMK lima tahun silam, karena sebelumnya aku tak pernah tertarik dengan program tv berbau politas dan berita menjenuhkan yang menaungi salah satu Talkshow yang beliau bawakan.

Dulu awal ketertarikanku untuk mengenal beliau karena gayanya yang sedikit unik dengan rambut kribo nya yang mudah skali dikenali, kemudian cara pembawaan diri yang tenang dan sedikit di bumbui candaan cerdas membuatku semakin senang melihat acara yang ia bawakan hingga saat ini

Dibalik itu semua, sosok yang senang bersosialisasi dan peduli terhadap lingkungan barangkali membuatnya dia sebagai salah satu yang menginspirasiku. Tidak banyak yang bisa aku tulisakan mengenai beliau karena sejatinya ia salah satu seorang jurnalis yang hebat di negara ini, dan barang kali karya ku ini dapat menularkan kisah inspiratif dari beliau kepada semua orang menjadi lebih bermanfaat. 
Terimakasih .

Senin, 04 Januari 2016

PRESIDEN JOKO WIDODO ( JOKOWI )j

#JOKOWI
( Painting by imsat )
Watercolor on linen papper
29,7cm x 42cm


Presiden Republik Indonesia ke tujuh Joko Widodo.
Beliau adalah salah satu dari beberapa orang paling berengaruh pada sejarah Negara Indonesia.
Aku tak tahu ingin menyampaikan apa, aku hanya berharap dapat bertemu dengan beliau dan kelak dapat menjadi sukses seperti beliau.

Cara Delevingne

( Painting by imsat )
Watercolor on linen papper
29,7 cm x 42 cm


Cara Delevingne, 
Aku tau super model tersebut dari temanku yang mengidolakan nya, sebenarnya aku tak menyukai ini tapi aku hanya ingin lebih dekat dengan temanku sebatas untuk bahan mengobrol saja, namun nyatanya Cara wanita yang unik menurutku.