Salah satu sudut pandang yang menarik pembicaraan adalah ketika pada siapa karya seni itu ditujukan dan bagaimana keadaan subjek yang menjadi tujuan penikmat seni tersebut apakah mendapat pengetahuan yang layak dan memadahi sesuai kesenian / karya seni yang di suguhkan pada subjek tersebut ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Didalam buku yang sedang saya baca Filsafat Seni oleh Jakob Sumardjo, salah satu syarat karya seni dapat disebut karya seni jika terjadi "Trilogi komunikasi" yang "baik dan benar" antara seniman sebagai subjek pencipta seni, karya seni, dan penerima seni sebagai subjek penerima ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Menurutku dari salah satu syarat karya seni bisa disebutnya karya seni tersebut dapat mewakili jawaban mengapa masih kurangnya apresiasi dan atensi masyarakat terhadap kesenian/karya seni sendiri karena memang semua harus saling berkaitan baik antara pencipta, barang kesenian, dan penanggap seni.
Jadi bukan lagi salah satu masalah siapa dan bagaimana yang mengadakan gelaran karya seni tersebut ketika sepinya pengunjung yang menikmati acara gelaran karya seni, tetapi seberapa masyarakat tahu dan tertarik akan karya seni itulah yang memengaruhi jumlah atensi disebuah acara gelaran karya seni.
Karena bagiku sudah terlalu jauh jarak antara masyarakat yang mengerti nilai akan karya seni dengan seniman yang menciptakan karya seni tersebut, bagaimana bisa jika para seniman terus belajar dan meningkatkan ciptaan karya seni mereka dengan sangat baik, namun masyarakat yang notabene sebagai penanggap karya seni secara umum tidak tahu-menahu dan cenderung kurang simpatik pada karya seni dapat saling berhubungan seperti salah satu syarat disebutnya karya seni yaitu "Trilogi komunikasi".
Sebagai contoh bukanah hal yang tabu ketika semasa kecil kita lebih dianggap pintar jika menguasai pelajaran matematis/sains, dan pelajaran seni dikesampingkan begitu saja, ini dibuktikan dengan sampai saat ini porsi waktu belajar mata pelajaran keduanya sangat menunjukkan perbedaan yang bahkan dua atau tiga kali lebih banyak.
Begitu juga dimasyarakat sekarang pada umumnya, pengetahuan kesenian/karya seni dianggap tidak lebih berguna dari informasi terbaru politik jaman sekarang, padahal sebuah kebudayaan terbentuk dari karya seni yang secara berturut-turut dilakukan masyarakat secara bersama-sama yang membentuk kebiasaan dan menjadi budaya bagi masyarakat tersebut.
Jika begitu sedikit kenyataan yang ada, tidaklah mengherankan jika "Trilogi komunikasi" sebagai syarat dapat disebutnya sebuah karya seni tidak terpenuhi dengan baik dan benar, maka tidak mengherankan bahwa setiap gelaran karya seni yang ada akan terasa hambar dan anti klimaks bagi para seniman yang merasakannya.
Akhirnya dengan catatan ini kita tahu bahwa memang ada yang salah dari kegiatan gelaran karya seni yang telah banyak dilakukan para seniman ini, bahwa mengedukasi para penanggap seni dalam hal ini masyarakat adalah sangat penting, sebagai seniman yang baik tugas besarnya adalah banyak mengedukasi para penanggap seni untuk membagikan nilai-nilai karya seni yang baik dengan cara-cara kreatif agar dapat diterima pada semua kalangan masyarakat.
Karena sebanyak, setinggi, dan sebagus apapun nila yang ingin disampaikan pada karya seni yang diciptakan oleh para seniman, jika masyarakat masih awam terhadap nilai seni maka akan banyak mereduksi nilai yang ada dalam karya tersebut dan mungkin hanya sebagian para penanggap seni saja yang akan dapat menikmati karya seni tersebut secara utuh. ( imsat )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar