Senin, 04 Januari 2016

SAHABAT

           Seperti biasanya, pagi ini setelah tidur beberapa jam orang yang pertama kali aku lihat ketika membuka mata adalah Ibu ku, dan mungkin ini berlangsung setiap pagi karena Ibu ku bagaikan alarm penuntunku untuk segera bangun berwudhu dan menjalankan aktifitas seperti biasanya.
Aku sangat mengagumi kerajinan dan kedisiplinan beliau, ingin sekali berharap bisa sepertinya namun kadang rasa malas lebih bisa mengalahkan diriku sendiri.

         Mungkin aku bisa dikatakan orang yang terlalu dingin untuk mengungkapkan sesuatu, bahkan aku tak pernah mengungkapkan perasaan sayang kepada siapapun selama ini, karena bagiku tindakan yang akan bisa menggambarkan itu semua jika mereka dapat membacanya, dan menurutku masih banyak orang-orang bodoh yang hanya percaya pada perkataan kosong bahakan untuk mempertaruhkan dirinya sendiri.

          Masih dalam suasana tahun baru dua ribu enam belas yang baru saja terlewati, waktu itu tepat beberapa jam sebelum malam tahun baru banyak sekali pemberitahuan di media sosial yang  membanggakan diri mereka untuk merayakan malam tersebut disuatu tempat yang spesial dengan pendamping mereka, namun tidak sedikit pula yang menghujat karena mereka tidak mendapat waktu dan pendamping yang tepat dimalam tersebut, aneh !

           Tidak terkecuali sebagian dari teman-temanku yang memberi ajakan untuk bergabung dengan acara yang mereka buat sendiri, namun aku bukan orang yang suka perayaan dengan banyak orang, dan mungkin aku juga tidak menyukai keramaian, aku hanya suka mengamati mereka semua.

            Kenapa banyak orang membanggakan teman yang mereka sebut sahabat justru yang bertingkah clometan, tak sopan, seakan tak ada privasi dan kadang sedikit anarkis, namun sebaliknya menganggap lebih rendah orang yang bersikap menghargai dan suka menolong mereka disaat susah. apakah sahabat yang mereka buat hanya karena kesedihan dan kesenangan yang mereka curahkan bersama? apa itu menjadi jalan dari sebuah solusi? atau hanya kesepakatan yang mereka buat tanpa memikirkan dampak baiknya?

            Bagiku sahabat itu tidak ada, dan aku juga tak pernah memiliki teman spesial yang disebut sahabat, teman hanya ada karena saling membutuhkan, karena terdapat kesamaan dalam hidup yang menyatukan mereka, karena sebagai perlindungan. Aku tak percaya adanya sahabat karena setiap manusia memiliki tujuan hidup masing-masing, kita hanya berstrategi untuk mendapat rasa nyaman yang dapat kita lampiaskan.

           Namun jika ada seseorang yang dapat disebut untuk mewakili makna dari kata tersebut adalah Orang Tua ( ayah dan ibu ). Bagiku merekalah yang seharusnya diberikan penghargaan setingi-tingginya dalam hidup kita, mereka lah yang membentuk kita, dan jika sebuah benua dapat dipersembahkan untuk mereka itu tidaklah cukup untuk menutup sedikit rasa terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar