Minggu, 27 September 2015
'' keyakinan ''
( illustrasi / desain by imsat )
Terlelap ku dalam gelombang imajiner yang menghanyutkan, terseret gelombang yang begitu deras, keras, dan menyesakkan, ini bukan diriku !
Salah satu yang sangat kuperjuangkan adalah memulai sebuah tindakan dan konsisten dalam hal apapun itu meski kecil, namun nyatanya konsisten itu sangat mahal konsekuensinya. Anehnya aku sadar yang aku lakukan dalam benar ataupun salah, namun seakan menikmati arus sangat sulit untuk melawannya.
Aku ingin tetap yakin dan percaya bahwa diriku dapat selalu konsisten dalam hal apapun itu, jika dirimu sahabatku bantulah aku untuk mengingat kebaikan bersama.
Minggu, 13 September 2015
Cahaya
Cahaya ...
Bukan engkau yang menentukan malam
Tidak pula yang memeras hujan
Entah pula elegi esok yang mendera
Namun terlalu bisa untuk mempengaruhi diri berimaji
Aku tak mengharapkanmu !
Aku dapat berdiri diatas satu kaki
Walaupun sehela aku terjatuh
Namun itu kucukupkan tuk' berdiri kembali
Mengabaikanmu ...
Entahlah sampai kapan,
Bukan waktu yang menentukan, namun hati
Aku selalu dalam jalanku, begitu juga kau
Dan saat jalan kita saling beriringan
Kupastikan tak kan meninggalkanmu.
(imsat)
Bukan engkau yang menentukan malam
Tidak pula yang memeras hujan
Entah pula elegi esok yang mendera
Namun terlalu bisa untuk mempengaruhi diri berimaji
Aku tak mengharapkanmu !
Aku dapat berdiri diatas satu kaki
Walaupun sehela aku terjatuh
Namun itu kucukupkan tuk' berdiri kembali
Mengabaikanmu ...
Entahlah sampai kapan,
Bukan waktu yang menentukan, namun hati
Aku selalu dalam jalanku, begitu juga kau
Dan saat jalan kita saling beriringan
Kupastikan tak kan meninggalkanmu.
(imsat)
Reborn
( desain & illustrasi by imsat )
Tidaklah mengenakan bagi kita yang pernah mengalami rasanya tenggelam, semua takut, menyesal, sedih, panik hingga kebingungan yang akan dialami menjadi suatu proses hidup yang berkesan. Namun ketika kita bangkit dan memupuk ulang semangat untuk "hidup kembali" itulah yang menjadi makna sesungguhnya. Kita ditakdirkan untuk jatuh namun menentukan saat kita bangkit untuk kembali berproses menjadi lebih baik, Reborn (imsat)
Tidaklah mengenakan bagi kita yang pernah mengalami rasanya tenggelam, semua takut, menyesal, sedih, panik hingga kebingungan yang akan dialami menjadi suatu proses hidup yang berkesan. Namun ketika kita bangkit dan memupuk ulang semangat untuk "hidup kembali" itulah yang menjadi makna sesungguhnya. Kita ditakdirkan untuk jatuh namun menentukan saat kita bangkit untuk kembali berproses menjadi lebih baik, Reborn (imsat)
Selasa, 08 September 2015
"Rak Jelas"
( desain/illustrasi by imsat )
Bagi ku yang memikirkan sebuah hasil karya, karena dalam sebuah ke tidak pastian itu terdapat suatu kepastian yang secara tidak sadar sudah menjadi pilihan, dan begitu juga dalam menciptakan sebuah karya.
Bagi ku yang memikirkan sebuah hasil karya, karena dalam sebuah ke tidak pastian itu terdapat suatu kepastian yang secara tidak sadar sudah menjadi pilihan, dan begitu juga dalam menciptakan sebuah karya.
Senin, 07 September 2015
Publik Penanggap Seni
Mengapa ketika sebuah komunitas atau perorangan yang bergerak dibidang
seni/kesenian bersemangat mengadakan acara gelar karya / pameran yang dirasa
berkualitas bagi para penanggap seni namun faktanya sangat sedikit masyarakat
yang tertarik mengunjungi acara tersebut? Mungkin bukan sekedar faktor siapa
dan bagaimana kualitas karya yang ditampilkan, namun masih banyak alasan yang
harus dijabarkan.
Salah satu sudut pandang yang menarik pembicaraan adalah ketika pada siapa karya seni itu ditujukan dan bagaimana keadaan subjek yang menjadi tujuan penikmat seni tersebut apakah mendapat pengetahuan yang layak dan memadahi sesuai kesenian / karya seni yang di suguhkan pada subjek tersebut ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Didalam buku yang sedang saya baca Filsafat Seni oleh Jakob Sumardjo, salah satu syarat karya seni dapat disebut karya seni jika terjadi "Trilogi komunikasi" yang "baik dan benar" antara seniman sebagai subjek pencipta seni, karya seni, dan penerima seni sebagai subjek penerima ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Menurutku dari salah satu syarat karya seni bisa disebutnya karya seni tersebut dapat mewakili jawaban mengapa masih kurangnya apresiasi dan atensi masyarakat terhadap kesenian/karya seni sendiri karena memang semua harus saling berkaitan baik antara pencipta, barang kesenian, dan penanggap seni.
Jadi bukan lagi salah satu masalah siapa dan bagaimana yang mengadakan gelaran karya seni tersebut ketika sepinya pengunjung yang menikmati acara gelaran karya seni, tetapi seberapa masyarakat tahu dan tertarik akan karya seni itulah yang memengaruhi jumlah atensi disebuah acara gelaran karya seni.
Karena bagiku sudah terlalu jauh jarak antara masyarakat yang mengerti nilai akan karya seni dengan seniman yang menciptakan karya seni tersebut, bagaimana bisa jika para seniman terus belajar dan meningkatkan ciptaan karya seni mereka dengan sangat baik, namun masyarakat yang notabene sebagai penanggap karya seni secara umum tidak tahu-menahu dan cenderung kurang simpatik pada karya seni dapat saling berhubungan seperti salah satu syarat disebutnya karya seni yaitu "Trilogi komunikasi".
Sebagai contoh bukanah hal yang tabu ketika semasa kecil kita lebih dianggap pintar jika menguasai pelajaran matematis/sains, dan pelajaran seni dikesampingkan begitu saja, ini dibuktikan dengan sampai saat ini porsi waktu belajar mata pelajaran keduanya sangat menunjukkan perbedaan yang bahkan dua atau tiga kali lebih banyak.
Begitu juga dimasyarakat sekarang pada umumnya, pengetahuan kesenian/karya seni dianggap tidak lebih berguna dari informasi terbaru politik jaman sekarang, padahal sebuah kebudayaan terbentuk dari karya seni yang secara berturut-turut dilakukan masyarakat secara bersama-sama yang membentuk kebiasaan dan menjadi budaya bagi masyarakat tersebut.
Jika begitu sedikit kenyataan yang ada, tidaklah mengherankan jika "Trilogi komunikasi" sebagai syarat dapat disebutnya sebuah karya seni tidak terpenuhi dengan baik dan benar, maka tidak mengherankan bahwa setiap gelaran karya seni yang ada akan terasa hambar dan anti klimaks bagi para seniman yang merasakannya.
Akhirnya dengan catatan ini kita tahu bahwa memang ada yang salah dari kegiatan gelaran karya seni yang telah banyak dilakukan para seniman ini, bahwa mengedukasi para penanggap seni dalam hal ini masyarakat adalah sangat penting, sebagai seniman yang baik tugas besarnya adalah banyak mengedukasi para penanggap seni untuk membagikan nilai-nilai karya seni yang baik dengan cara-cara kreatif agar dapat diterima pada semua kalangan masyarakat.
Karena sebanyak, setinggi, dan sebagus apapun nila yang ingin disampaikan pada karya seni yang diciptakan oleh para seniman, jika masyarakat masih awam terhadap nilai seni maka akan banyak mereduksi nilai yang ada dalam karya tersebut dan mungkin hanya sebagian para penanggap seni saja yang akan dapat menikmati karya seni tersebut secara utuh. ( imsat )
Salah satu sudut pandang yang menarik pembicaraan adalah ketika pada siapa karya seni itu ditujukan dan bagaimana keadaan subjek yang menjadi tujuan penikmat seni tersebut apakah mendapat pengetahuan yang layak dan memadahi sesuai kesenian / karya seni yang di suguhkan pada subjek tersebut ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Didalam buku yang sedang saya baca Filsafat Seni oleh Jakob Sumardjo, salah satu syarat karya seni dapat disebut karya seni jika terjadi "Trilogi komunikasi" yang "baik dan benar" antara seniman sebagai subjek pencipta seni, karya seni, dan penerima seni sebagai subjek penerima ( dalam hal ini masyarakat umum ).
Menurutku dari salah satu syarat karya seni bisa disebutnya karya seni tersebut dapat mewakili jawaban mengapa masih kurangnya apresiasi dan atensi masyarakat terhadap kesenian/karya seni sendiri karena memang semua harus saling berkaitan baik antara pencipta, barang kesenian, dan penanggap seni.
Jadi bukan lagi salah satu masalah siapa dan bagaimana yang mengadakan gelaran karya seni tersebut ketika sepinya pengunjung yang menikmati acara gelaran karya seni, tetapi seberapa masyarakat tahu dan tertarik akan karya seni itulah yang memengaruhi jumlah atensi disebuah acara gelaran karya seni.
Karena bagiku sudah terlalu jauh jarak antara masyarakat yang mengerti nilai akan karya seni dengan seniman yang menciptakan karya seni tersebut, bagaimana bisa jika para seniman terus belajar dan meningkatkan ciptaan karya seni mereka dengan sangat baik, namun masyarakat yang notabene sebagai penanggap karya seni secara umum tidak tahu-menahu dan cenderung kurang simpatik pada karya seni dapat saling berhubungan seperti salah satu syarat disebutnya karya seni yaitu "Trilogi komunikasi".
Sebagai contoh bukanah hal yang tabu ketika semasa kecil kita lebih dianggap pintar jika menguasai pelajaran matematis/sains, dan pelajaran seni dikesampingkan begitu saja, ini dibuktikan dengan sampai saat ini porsi waktu belajar mata pelajaran keduanya sangat menunjukkan perbedaan yang bahkan dua atau tiga kali lebih banyak.
Begitu juga dimasyarakat sekarang pada umumnya, pengetahuan kesenian/karya seni dianggap tidak lebih berguna dari informasi terbaru politik jaman sekarang, padahal sebuah kebudayaan terbentuk dari karya seni yang secara berturut-turut dilakukan masyarakat secara bersama-sama yang membentuk kebiasaan dan menjadi budaya bagi masyarakat tersebut.
Jika begitu sedikit kenyataan yang ada, tidaklah mengherankan jika "Trilogi komunikasi" sebagai syarat dapat disebutnya sebuah karya seni tidak terpenuhi dengan baik dan benar, maka tidak mengherankan bahwa setiap gelaran karya seni yang ada akan terasa hambar dan anti klimaks bagi para seniman yang merasakannya.
Akhirnya dengan catatan ini kita tahu bahwa memang ada yang salah dari kegiatan gelaran karya seni yang telah banyak dilakukan para seniman ini, bahwa mengedukasi para penanggap seni dalam hal ini masyarakat adalah sangat penting, sebagai seniman yang baik tugas besarnya adalah banyak mengedukasi para penanggap seni untuk membagikan nilai-nilai karya seni yang baik dengan cara-cara kreatif agar dapat diterima pada semua kalangan masyarakat.
Karena sebanyak, setinggi, dan sebagus apapun nila yang ingin disampaikan pada karya seni yang diciptakan oleh para seniman, jika masyarakat masih awam terhadap nilai seni maka akan banyak mereduksi nilai yang ada dalam karya tersebut dan mungkin hanya sebagian para penanggap seni saja yang akan dapat menikmati karya seni tersebut secara utuh. ( imsat )
Jumat, 28 Agustus 2015
Tulislah
Jika saat ini banyak orang membicarakan narkotika, jika sekarang ini bangsa kita mendapat julukan baby smoker dunia, jika pula masih banyak penggusuran, pembunuhan, korupsi, prostitusi, bahkan eksploitasi dan lain sebagainya di dalam masyarakat bangsa kita, lalu seberapa besarkan yang membicarakan kesenian dan kebersamaan?
Berbicara seni seperti anak tiri yang dibicarakan ibu angkatnya, seperti menangkap asap dll. "baik diucap lenyap sekejap". Sudahlah alihkan saja pembahasan ini karena bukan saat yang tepat membicarakannya, karena saat ini aku hanya ingin menulis!
Siapa bilang menulis itu mudah? tidak sama sekali jika tidak langsung memulainnya !
untuk menggerakan jari-jemariku diatas keyboard ini aku sudah memikirkannya sejak subuh, dan ini sudah menunjukkan pukul 10.42 aku baru memulainnya, susah bukan hanya untuk tulisan sekelas ini!
Aku punya satu buku yang belum habis ku baca tentang " kekuatan menulis ", disana dibahas tentang tips & trik menulis, dan semua bab yang sudah aku bahas sebagian besar hanya menganjurkan untuk segeralah menulis. dan saat ini pun aku mempraktekannya, aku hanya ingin menulis dan tulislah.
Tapi saat ini setelah aku pikirkan kembali tentang tips menulis yang aku baca dibuku tersebut ternyata ada benarnya juga, kita tidak akan dapat menulis jika hanya memikirkannya saja, kita harus menulis sambil berfikir, dan tanpa sadar kita telah menulis sebuah tulisan.
Aku sangat terlalu banyak memikirkan sesuatu tanpa sadar waktuku habis hanya untuk berfikir, sedangkan menulis dituntut untuk lebih dulu bertindak lalu berfikir dalam artian kita harus memulai menulis dahulu kemudian baru diselangi dengan berfikir secara bersamaan, dan hal itu menjadi sangat baru bagi caraku bertindak dan memulai sesuatu, namun ternyata sangat efektif.
Begitu juga dengan memulai bidang kesenian yang lain, ternyata kita dituntut untuk bertindak dahulu baru diselangi berfikir untuk menemukan sesuatu yang baru dalam artian menggali kreatifitas, ya mungkin benar untuk memunculkan kreatifitas kita juga harus perlu rangsangan yang baik juga kan, dan langkah awal untuk merangsang kreatifitas adalah melakukan langkah awal untuk memulai kegiatan tersebut,
Sekarang aku jadi tersadar akan perjuangan disiplin yang sangat kuat yang telah diterapkan orang-orang yang telah sukses menekuni dunia kreatifitas baik itu seni visual, sastra, musik, ataupun yang lainnya, mereka melakukan langkah awal yang sangat hebat setiap harinya dengan dipupuk komitmen dengan disiplin diri yang sangat tinggi untuk menyelesaikan karya kreatif mereka dari awal.
Mungkin pelajaran yang dapat aku petik dalam tulisanku kali ini adalah setiap orang besar pasti memiliki disiplin diri tinggi yang telah diterapkan pada dirinya, dan dipupuk dengan komitmen yang selalu menguatkannya untuk menyelesaikan karyanya dengan sebaik mungkin. Dan hal ini dapat menjadi pembelajaran baik terhadap diriku sendiri dan mungkin orang yang telah membaca tulisan kecilku ini. Terimakasih atas atensi yang telah diberikan. :)
Menjadi Berani
( illustrasi/desain by imsat )
Seiring berjalannya waktu, perubahan zaman modern terasa begitu cepatnya jika kita hanya menjadi penonton yang monoton, penikmat yang tak terpenjat dari silih bergantinya budaya luar yang terus keluar masuk seenaknya saja di bangsa yang sangat menjunjung tinggi budaya dan adat-istiadat dahulu kala.
Sudah menjadi rahasia umum sekarang ini bahwa banyak pribadi-pribadi baru yang mencuat atas dasar ingin menjadi terus eksis di tengah masyarakat yang homogen, apapun mereka lakukan untuk menjadi pembeda dan ingin menjadi yang pertama demi terus mengeksiskan diri agar terus berada diatas.
Pertanyaanya apa yang harus kita lakukan ..? mengikuti arus dan tenggelam atau Menjadi Berani bertahan bahkan melawan atas budaya dan ideologi baru yang terus silih berganti menghantam bangsa ini. entahlah semua orang punya alasan tersendiri untuk terus bertahan, dan alasan yang tidak disepakati akan terus menjadi perdebatan diantara kita semua.
Namun bagiku, Menjadi Berani untuk terang-terangan melawan bukanlah cara yang terbaik untuk mempertahankan budaya bangsa yang kaya ini, Menjadi Berani dengan mengikuti trend sosial dan merubah halauan tersebut, merevolusi dan mengganti nilai tersebut dengan nilai-nilai bangsa ibu pertiwi ini adalah solusi yang terbaik.
Karena bukanlah yang kuat menantang yang akan menang, namun yang terus eksis ada dan yang dihargailah kekuatan sesungguhnya yang akan menang. Saat ini banyak para budayawan berteriak kekayaan budaya bangsa secara langsung dengan gaya egois. yang dibutuhkan generasi sekarang adalah berteriak budaya dengan informatif dan kreatif melalui gaya pada jaman sekarang. karena orang yang mengabaikan zaman yang ia tempati sama saja tak menghargai waktu sekarang, bagaimanapun alasannya menjadi benar. (imsat)
Seiring berjalannya waktu, perubahan zaman modern terasa begitu cepatnya jika kita hanya menjadi penonton yang monoton, penikmat yang tak terpenjat dari silih bergantinya budaya luar yang terus keluar masuk seenaknya saja di bangsa yang sangat menjunjung tinggi budaya dan adat-istiadat dahulu kala.
Sudah menjadi rahasia umum sekarang ini bahwa banyak pribadi-pribadi baru yang mencuat atas dasar ingin menjadi terus eksis di tengah masyarakat yang homogen, apapun mereka lakukan untuk menjadi pembeda dan ingin menjadi yang pertama demi terus mengeksiskan diri agar terus berada diatas.
Pertanyaanya apa yang harus kita lakukan ..? mengikuti arus dan tenggelam atau Menjadi Berani bertahan bahkan melawan atas budaya dan ideologi baru yang terus silih berganti menghantam bangsa ini. entahlah semua orang punya alasan tersendiri untuk terus bertahan, dan alasan yang tidak disepakati akan terus menjadi perdebatan diantara kita semua.
Namun bagiku, Menjadi Berani untuk terang-terangan melawan bukanlah cara yang terbaik untuk mempertahankan budaya bangsa yang kaya ini, Menjadi Berani dengan mengikuti trend sosial dan merubah halauan tersebut, merevolusi dan mengganti nilai tersebut dengan nilai-nilai bangsa ibu pertiwi ini adalah solusi yang terbaik.
Karena bukanlah yang kuat menantang yang akan menang, namun yang terus eksis ada dan yang dihargailah kekuatan sesungguhnya yang akan menang. Saat ini banyak para budayawan berteriak kekayaan budaya bangsa secara langsung dengan gaya egois. yang dibutuhkan generasi sekarang adalah berteriak budaya dengan informatif dan kreatif melalui gaya pada jaman sekarang. karena orang yang mengabaikan zaman yang ia tempati sama saja tak menghargai waktu sekarang, bagaimanapun alasannya menjadi benar. (imsat)
Langganan:
Postingan (Atom)



