Minggu, 24 Desember 2017

HENTI

Henti ...
Kuputuskan dalam sebuah suksesi,
Dalam sebuah logika dan deru hati.
Menyala, mengobar, dalam ruang stagnanisasi.

Menghenti ...
Memaksa seluruh jiwa terus sembunyi
Hanyalah KENISTAAN yang terus menghantui
Ketakutan ini, Gelisah ini, Emosi ini
Menyeruak menghujam hingga nurani mati.

Berhenti ...
Menjadi pecundang pongah, mengangkang berantakan!
Kau Gadisku, namun hilang secara serampangan
Memang gila,
Hanya lelaki Idiot, dalam ketakutan menembus kegelapan.
Tak layakkah ku persanding denganmu?
Padahal hirarki tenggelam dalam kebohongan.

Tuhan ...
Beri ku kesempatan menawar pagi





Rabu, 20 Desember 2017

ANALISIS KONOTATIF KARYA KENDRA PADA TEMPO

                                     
                               Cover Majalah Tempo | Edisi 20-26 November 2017.
                                       Original Illustrator : Kendra Paramita
                                                              Jakarta.



          Intrik dan drama politik, menjadi salah satu konsumsi media massa terbesar masyarakat Indonesia. Setiap hari selalu saja aja ada permasalahan yang muncul dan diangkat ke ranah publik lewat media massa dalam kaitannya dengan politik, namun tentu saja ini bukanlah wajah asli bangsa kita yang seolah selalu saja penuh drama politis yang terus di besar-besarkan dan tak sedikit hingga mengakibatkan perselisihan antar sesama sebangsa.

Namun pada tulisan ini tidak akan dibahas tentang isu politik yang sepertinya takkan ada habisnya, yang selalu mencuri perhatian ialah salah satu media cetak nasional yang terus konsisten mengangkat isu politik, menjadi  seakan publik dibuat terus penasaran dengan isi berita yang ia sajikan hanya dengan melihat illustrasi cover depan majalah tersebut, dialah majalah Tempo.

Majalah tempo sangat mencuri perhatian publik lewat karya-karya illustrasi yang ia tampilkan lewat cover maupun isi nya. Dan salah satu illustrator dibalik keganasan karya-karya tempo ialah "Kendra Paramita". pria lulusan Institut Kesenian Jakarta telah bekerja di Tempo dalam kurun waktu 13 tahun lamanya, tak heran jika karya illustrasi yang ia suguhkan sudah sangat berkelas kualitasnya.

Namun garis besar dari pembahasan pada tulisan ini ialah kita akan melihat dari sudut pandang tajam untuk melihat seberapa relevan kah karya illustrasi tersebut sebagai konsumsi publik dalam contoh gambar cover majalha tempo yang telah ditampilkan diatas. 

         Pada kurun waktu di akhir tahun 2017 ini,  publik sedang digemparkan dengan kasus korupsi mega proyek E-KTP  dan mencatut nama-nama pesohor publik diantaranya pemimpin tertinggi DPR sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto, namun dalam proses hukumnya, Setya Novanto dinilai memanipulasi dan tak taat hukum.

Dari garis besar topik tersebut Tempo dengan illustrator Kendra Paramita mencoba menggambarkan polemik tersebut diwujudkan dalam illustrasi cover majalah yang ia sebarkan. Dalam illustrasi tersebut sangat ditonjolkan figur Setya Novanto dengan memakai jas hitam dalaman hem berwarna kuning sedang memegang dua buah piala dengan ekspresi perayaan kemenangan layaknya mendapatkan piala Oscar. 
Terdapat satu headline besar yang ditulis "Satu Perkara Seribu Drama" juga diimbuhi footnote "beberapa jam sebelum disergap KPK, Setya Novanto menghilang mendapat bocoran dari orang dalam?".

Dari beberapa clue diatas kita bisa menjabarkan bahwa illustrator menggunakan makna konotatif, dimana ia menggunakan sindiran dari kejadian yang sebenarnya. Jas hitam rapi berkonotasi tentang kehormatan dan kedudukan yang di emban subjek, kemudian Hem berwarna kuning, Kuning merupakan warna simbolis dari partai yang ia pimpin. Dengan membawa dua buah piala penghargaan berkonotasi bahwa subjek telah berhasil mengelabuhi proses hukumnya hingga saat ini dan dikuatkan dengan ditunjukkan wajah yang penuh kebanggaan. Dari sedikit clue tersebut kita telah dapat menangkap pesan yang disampaikan sang illustrator dalam karyanya.

Berlanjut pada text yang disajikan dalam cover tersebut, Headline "Satu Perkara Seribu Drama" ditampilkan dengan warna keemasan, disini terasa agak sedikit janggal tentang pemaknaan warna yang ditampilkan, warna emas identik dengan kejayaan/kemewahan, jika sang illustrator masih tetap mempertahankan makna konotatif, dalam konteks isu hukum dan tata negara setiap warga negara sama kedudukannya dan yang bersalah akan di hukum.
Jika begitu makna kejayaan dalam warna emas dirasa kurang tepat karena pada akhirnya jika subjek bersalah harus tetap dihukum dan kejayaan disini akan terpatahkan dan tidak sesuai.

Kemudian judul majalah Tempo dibuat besar dan tebal berada di bagian atas, kemudian huruf O pada judul tertup sebuah gambar kaki yang seakan sedang menginjak. secara pemaknaan huruf O merupakan satu-satunya huruf yang tak berujung, juga bisa dikaitkan dengan "meja bundar" yang berarti konferensi. disini bisa ditarik pemaknaan bahwa Tempo berharap penegak hukum segera menuntaskan polemik yang dirasa tak berujung lewat peradilan yang seadil-adilnya.
Kemudian disisipkan sub judul text dalam  berita yang dirasa menarik pembaca.

Beralih pada background dasar cover berwarna krem kekuningan, ini merujuk warna yang hangat dan bisa diasosiasikan sebagai warna tua/berumur yang membmerikan kesan vintage. illustrator disisi lain mengejar kesan keseimbangan senada, seakan dapat dipahami bahwa Tempo ingin menunjukkan bahwa berita yang ia sajikan berdasarkan pada kajian dan sumber yang kredibilitasnya teruji.

Sisi lain dari elemen visual yang menonjol pada karya cover tersebut yaitu lis horisontal merah menyala pada pojok kanan cover, kita tahu bahwa warna merah salah satu warna identitas dari majalah Tempo, dan dalam karya tersebut illustrator cerdas memainkan warna tersebut yang seakan publik langsung tahu bahwa itu merupakan majalah original Tempo.

Secara keseluruhan, Kendra Paramita berhasil membawa karyanya menjadi sebuah identitas dari majalah Tempo, ia sangat piawai dalam merekonstruksi sebuah kejadian/isu dalam makna konotatif yang membuat setiap orang tergelitik untuk berfikir dan membuat paradigma baru. Namun dalam hal Layout text terdapat sedikit ketidak-sesuaian dan konsistensinya.

Dengan demikian Kendra Paramita menjadi salah satu illustrator Jurnalistik Nasional yang patut selalu diperhitungkan dalam setiap karya-karyanya untuk generasi muda sekarang ini.
Salam !



Selasa, 01 Maret 2016

CATATAN SEJARAH PRIBADI

illustration watercolor painting
29,7 x 42 cm on linen
by imsat



          Sudah sejak terakhir kali aku menulis pada 19 januari lalu, rasanya terlalu lama sekali untuk memulai merangkai kata demi kata menjadi sebuah dokumentasi perjalanan hidupku selama ini. Mungkin diriku hanya satu dari berjuta-juta manusia yang menginginkan pendokumentasian perjalanan hidupnya untuk suatu ketika diulas kembali pada zaman bahkan peradaban yang baru pula, entah itu ketika kita masih menjadi sumber sejarah yang nyata atau hanya sebuah kenangan belaka.

Perihal apakah itu semua keinginan yang sangat berbau narsistik ataukah memang sesuatu yang memang harus ada untuk jejak sejarah diri kita sendiri bagiku semua akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya, namun satu hal yang sangat tidak diijinkan dalam  pencatatan pendokumantasian tersebut adalah melebih-lebihkan segala sesuatu yang akan membuat kerancuan dalam orisinilitas-an pendokumentasian sejarah tersebut.

Salah satu pembentuk konten pendokumentasian sejarah pribadi diri sendiri menurutku adalah pencapaian dalam hidup. pada umumnya kita akan gembira ketika berhasil melakukan pencapaian suatu hal yang memang benar - benar kita usahakan terlebih lagi espektasi yang dimunculkan pikiran kita lebih minim dibanding realita yang telah kita capai, barang tentu hal tersebut menjadi catatan sejarah pribadi yang sangat perlu untuk di dokumentasikan karena di dalamnya akan terdapat rangkaian cerita yang menarik dan bernada positif.

Merujuk pada diriku sendiri, hal yang kuanggap sebagai pencapaian adalah karya - karya yang terus aku hasilkan dan memiliki progres estetik yang terus menanjak. Bagiku karya visual yang melibatkan imajinasi, intuisi, serta pengendalian emosi yang tinggi akan menciptakan hasil karya yang akan melampaui espektasi dari bayangan yang telah difikirkan lalu. Sebagai koreksi ketika menciptakan karya visual apapun aku tidak akan mematok hasil yang sangat indah di dalam kepalaku, namun aku memikirkan yang sangat indah ketika aku mulai berproses menciptakan karya visual tersebut, selama berusaha dan yakin maka hasil dari berproses secara demikian membuatku dapat terus gembira akan hasil yang aku ciptakan, dan dari sanalah aku dapat menjadikannya sebagai catatan sejarah pribadiku yang mungkin suatu saat akan ada yang membukanya, setidaknya aku berusaha menampilkan senatural mungkin yang sesuai dengan realita yang aku alami di waktu itu.


Selasa, 19 Januari 2016

Artwork illustration by imsat


              Adalah sebuah pria dalam karakter film interstellar yang menurut pendapatku dia adalah seorang yang jenius, pekerja keras, sangat menyayangi keluarganya, namun melalukan tindakan apapun demi kelangsungan sesuatu yang dianggap dia benar meskipun itu tindakan yang salah.

Menurut pendapatku film tersebut memiliki plot cerita yang kreatif dan tidak dapat terduga penonton, disamping effek kamera dan motion graphic yang sangat bagus, ditunjang efek sound yang sangat mengena di hati membuat film ini begitu menegangkan untuk penikmatnya.

Namun satu hal yang aku agak sesalkan tentang ending yang menurutku anti klimaks, ending yang bagus sudah ditampilkan, namun belum dapat menopang keseimbangan dari isi film tersebut yang menurutku bisa sangat jauh lebih baik lagi. namun bagiku ini salah satu film sci-fi terbaik selama ini yang pernah aku lihat.

Terlepas dari ulasan diatas, aku sangat menyukai dan mengapresiasi setiap detil dari film tersebut karena bukan perkara mudah  untuk menciptakan sebuah karya besar seperti itu, maka dari itu sedikit fanart aku buat untuk mewakili rasa kagumku terhadap karya sebesar itu, dan semoga dapat menjadi berguna dan menginspirasi bagi siapapun.
Terimakasih

Senin, 11 Januari 2016

Cerita Andy F. Noya

(Artwork by imsat)
Watercolor 29,7x42 cm
on Linen

                    Andy Flores Noya, pertama kali kulihat beliau di siaran program Talk Show di Tv yang identik dengan berita, mungkin saat itu aku masih kelas 1 SMK lima tahun silam, karena sebelumnya aku tak pernah tertarik dengan program tv berbau politas dan berita menjenuhkan yang menaungi salah satu Talkshow yang beliau bawakan.

Dulu awal ketertarikanku untuk mengenal beliau karena gayanya yang sedikit unik dengan rambut kribo nya yang mudah skali dikenali, kemudian cara pembawaan diri yang tenang dan sedikit di bumbui candaan cerdas membuatku semakin senang melihat acara yang ia bawakan hingga saat ini

Dibalik itu semua, sosok yang senang bersosialisasi dan peduli terhadap lingkungan barangkali membuatnya dia sebagai salah satu yang menginspirasiku. Tidak banyak yang bisa aku tulisakan mengenai beliau karena sejatinya ia salah satu seorang jurnalis yang hebat di negara ini, dan barang kali karya ku ini dapat menularkan kisah inspiratif dari beliau kepada semua orang menjadi lebih bermanfaat. 
Terimakasih .

Senin, 04 Januari 2016

PRESIDEN JOKO WIDODO ( JOKOWI )j

#JOKOWI
( Painting by imsat )
Watercolor on linen papper
29,7cm x 42cm


Presiden Republik Indonesia ke tujuh Joko Widodo.
Beliau adalah salah satu dari beberapa orang paling berengaruh pada sejarah Negara Indonesia.
Aku tak tahu ingin menyampaikan apa, aku hanya berharap dapat bertemu dengan beliau dan kelak dapat menjadi sukses seperti beliau.

Cara Delevingne

( Painting by imsat )
Watercolor on linen papper
29,7 cm x 42 cm


Cara Delevingne, 
Aku tau super model tersebut dari temanku yang mengidolakan nya, sebenarnya aku tak menyukai ini tapi aku hanya ingin lebih dekat dengan temanku sebatas untuk bahan mengobrol saja, namun nyatanya Cara wanita yang unik menurutku.

Hari Ibu

     ( painting by imsat )
Watercolor on linen paper
29,7 x 42 cm

         Adalah sebuah karya lukisan yang aku buat untuk sebuah kado pada hari ibu, ini adalah sebuah karya potrait menggunakan cat air pertamaku, dan jujur dari karya ini aku banyak belajar mengenai teknik cat air, entah mengapa  aku sangat menyukai karyaku ini, karena nilai psikologisnya begitu besar dan ini adalah sebuah awal yang bagus. 
Terimakasih Ibu.




SAHABAT

           Seperti biasanya, pagi ini setelah tidur beberapa jam orang yang pertama kali aku lihat ketika membuka mata adalah Ibu ku, dan mungkin ini berlangsung setiap pagi karena Ibu ku bagaikan alarm penuntunku untuk segera bangun berwudhu dan menjalankan aktifitas seperti biasanya.
Aku sangat mengagumi kerajinan dan kedisiplinan beliau, ingin sekali berharap bisa sepertinya namun kadang rasa malas lebih bisa mengalahkan diriku sendiri.

         Mungkin aku bisa dikatakan orang yang terlalu dingin untuk mengungkapkan sesuatu, bahkan aku tak pernah mengungkapkan perasaan sayang kepada siapapun selama ini, karena bagiku tindakan yang akan bisa menggambarkan itu semua jika mereka dapat membacanya, dan menurutku masih banyak orang-orang bodoh yang hanya percaya pada perkataan kosong bahakan untuk mempertaruhkan dirinya sendiri.

          Masih dalam suasana tahun baru dua ribu enam belas yang baru saja terlewati, waktu itu tepat beberapa jam sebelum malam tahun baru banyak sekali pemberitahuan di media sosial yang  membanggakan diri mereka untuk merayakan malam tersebut disuatu tempat yang spesial dengan pendamping mereka, namun tidak sedikit pula yang menghujat karena mereka tidak mendapat waktu dan pendamping yang tepat dimalam tersebut, aneh !

           Tidak terkecuali sebagian dari teman-temanku yang memberi ajakan untuk bergabung dengan acara yang mereka buat sendiri, namun aku bukan orang yang suka perayaan dengan banyak orang, dan mungkin aku juga tidak menyukai keramaian, aku hanya suka mengamati mereka semua.

            Kenapa banyak orang membanggakan teman yang mereka sebut sahabat justru yang bertingkah clometan, tak sopan, seakan tak ada privasi dan kadang sedikit anarkis, namun sebaliknya menganggap lebih rendah orang yang bersikap menghargai dan suka menolong mereka disaat susah. apakah sahabat yang mereka buat hanya karena kesedihan dan kesenangan yang mereka curahkan bersama? apa itu menjadi jalan dari sebuah solusi? atau hanya kesepakatan yang mereka buat tanpa memikirkan dampak baiknya?

            Bagiku sahabat itu tidak ada, dan aku juga tak pernah memiliki teman spesial yang disebut sahabat, teman hanya ada karena saling membutuhkan, karena terdapat kesamaan dalam hidup yang menyatukan mereka, karena sebagai perlindungan. Aku tak percaya adanya sahabat karena setiap manusia memiliki tujuan hidup masing-masing, kita hanya berstrategi untuk mendapat rasa nyaman yang dapat kita lampiaskan.

           Namun jika ada seseorang yang dapat disebut untuk mewakili makna dari kata tersebut adalah Orang Tua ( ayah dan ibu ). Bagiku merekalah yang seharusnya diberikan penghargaan setingi-tingginya dalam hidup kita, mereka lah yang membentuk kita, dan jika sebuah benua dapat dipersembahkan untuk mereka itu tidaklah cukup untuk menutup sedikit rasa terimakasih.

Minggu, 13 Desember 2015

TERPAAN WAKTU

            Tidak terasa waktu cepat berlalu dan kita sudah dihadapkan lagi dengan letupan kembang api, tiupan terompet, atau sekedar ucapan selamat tahun baru. Jadi mengapa kebanyakan orang juga termasuk diriku ini selalu memberikan perhatian lebih pada masa penghujung tahun? dan pendapatku karena sebagai ajang introspeksi diri akan kekurangan yang banyak kita lakukan selama satu tahun lalu.

           Ya memang sejauh ini ketika aku memikirkan satu tahun yang telah aku lalui selalu saja diakhiri dengan banyaknya penyesalan, dan tanda tanya mengapa aku tidak melakukan hal ini, hal itu, dan sebagainya. Apa memang ini manusiawi ataukah memang masih buruknya kualitas hidupku aku tak tahu.

            Ketika ditanyakan apakah bahagia itu, dan apakah telah kulalui dalam kurun waktu satu tahun ini, seakan pertanyaan semacam itu menjadi ambigu dan membingungkan untuk kujawa. Aku memang tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, ketika itu pada saat bahagia pun aku berusaha tak meluapkan semuanya dan cenderung menahannya. Alasannya karena anggapanku sesuatu yang berlebihan akan lebih menyakitkan ketika berbalik keadaan pada saat itu.

           Pada minggu-minggu ini aku akan dihadapkan dengan UAS, yang menjadi kekhawatiranku bukan karena soal yang akan diajukan, namun karena tugas-tugas yang diberikan itulah yang menjadi fokusku saat ini, melihat dari UTS kemarin yang banyaknya tugas diberikan kurasa kali ini akan tidak jauh berbeda.

           Namun entah mengapa akhir-akhir ini semangatku sudah mulai berkurang, mungkin ini akan menjadi titik kejenuhanku pada semua aktifitas keseharian yang aku lalui. Sudah harus menjadi tugasku kali ini menemukan semangatku seperti dulu yang penuh motivasi, aku tidak pernah suka berada pada saat seperti sekarang.

           Untuk engkau disana, akhir-akhir ini aku lebih mulai merasa dekat entah itu benar atau tidak namun semoga saja ini adalah suatu pertanda baik, dan semoga  dapat menjadi alasanku untuk menjadi lebih baik dalam melakukan segala hal, kusadari memotivasi orang lain bisa jauh lebih mudah dari pada dilakukan untuk diri sendiri.



Selasa, 01 Desember 2015

KUTEMUI DIRIMU

             Akhir-akhir ini setiap hari kurasa lebih panjang dari sebelumnya, meski perputaran waktu memang selalu sama setiap harinya namun agaknya ini sedikit berbeda, aku memiliki teman berkirim kabar baru yang mungkin kurasa agak mulai sejalan denganku dan pastinya seorang wanita.

Dia bukanlah orang yang baru aku kenal, mungkin sekitar setengah tahun lalu aku bertemu dengannya di sebuah lembaga bimbingan belajar tempatku dulu untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Menurutku dia seorang yang baik meskipun kadang bersikap cuek namun itu wajar saja bagi seorang wanita.

Perawakannya tak terlalu tinggi namun dia sepertinya selalu menjaga tampilannya yang kulihat dari dandanan yang selalu serasi dari sepatu hingga jilbab yang ia kenakan, kulitnya putih pucat namun wajahnya tampak berseri terlihat natural dengan bibir yang merah merona, alis tipis memperjelas raut wajah sederhananya yang nyaman dipandang.

Aku masih ingat benar ketika pertama kali berkenalan dengannya, aku tak sengaja melihatnya ketika ia sedang menunggu jemputan pulang dari bimbel, dengan spontan kuhampiri dia dan langsung bertanya tentang jadwal pembelajaran esok, karena waktu itu aku baru mengikuti pembelajaran disana. Kami berinteraksi seadanya dan langsung ku akhiri dengan meminta nomor handphone nya dengan alasan untuk bertanya lebih lanjut tentang jadwal pembelajaran berikutnya.

Dari sana akhirnya kami berkomunikasi dengan baik, meski hanya sekedar menyanyakan kabar, dan kebiasaanku memang untuk sesekali menanyakan kabar teman-temanku yang telah lama tak berkomunikasi, dan dari permulaan itu kami semakin akrab hingga saat ini.

Untuk diketahui dia sekarang masuk di universitas swasta ternama di Semarang dengan mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat, namun kabarnya dia ingin mencoba kembali tahun depan karena kutahu dia sangat ingin sekali masuk jurusan Kedokteran, aku sangat senang ketika mendengar kabar tersebut.

Tetapi entahlah hingga seperti apa masa yang akan datang tentang kami, namun saat ini aku masih menikmatinya sebagai sahabat baikku, meski suatu saat kita menemukan perbedaan yang sedikit menjadi duri namun aku berharap akan menjadi lebih baik kedepannya.

Jumat, 27 November 2015

SHOW OFF !!

                                                              ( design / illustration by imsat )

               

Sabtu, 14 November 2015

MEMUTAR KESEHARIAN

            Akhir-akhir ini kegiatan keseharianku seperti tidak produktif saja, aku memang tetap masih disibukkan dengan tugas kuliah yang tak jarang kuanggap remeh namun merepotkan jika bertumpuk banyak bersamaan pula, namun aku tetap menganggap diriku tidak produktif.

Seperti harapanku dulu yang ingin menghabiskan minimal satu buku dalam sebulan, kali ini untuk membaca satu bab tulisan dalam seminggu pun kurasa masih sangat berat, apalagi ditambah dengan rasa letih sehabis kuliah yang rata - rata berakhir pukul empat sore dan sampai dirumah kira - kira pukul lima sore membuat waktuku seakan habis untuk tidur saja.

Entah mengapa aku kesulitan untuk mengatur waktuku sendiri, kadang pada saat libur seperti saat ini tidak jarang aku tak menghasilkan sesuatu apapun seakan balas dendam akan waktu istirahat yang saangat kurang kurasakan. Namun tak jarang hari berikutnya aku merasa sangat menyesal dengan kelakuanku sendiri yang tak produktif

Belum lagi masalah soal finansial yang kadang kurasakan yang hanya hidup untuk satu minggu saja, cukup untuk membeli bensin seminggu dan makan sekali setiap minggunya. Yah kadang aku merasa sangat berat untuk menjalaninya namun dibanding dengan orang yang masih sangat banyak yang tidak seberuntung diriku dapat menjadi pemicu untuk lebih tegas menjalani kehidupanku.

Bersangkutan dengan finansial, harapan dan cita-citaku sedari dulu adalah ingin mempunyai sebuah usaha yang mandiri, tidak sedikit ide dan inspirasi usaha yang terlintas dibenakku namun seakan hanya seperti angin lalu aku selalu memperbanyak pertimbangan yang hasil akhirnya hanyalah wacana semata. Namun aku sangat ingin sekali berwirasusaha pada waktu ini dan semoga ada jalan yang diberikan Tuhan secepatnya.

Untuk diketahui aku telah berhasil sedikit menapakkan kakiku pada satu impianku untuk membangun dan mengembangkan sebuah studio kreatif, mungkin masih sangat awal namun setidaknya aku bersama kedua teman sekelasku akan berusaha menjaga dan mengembangkan studio buah pemikiran kita bersama, dan semoga kedepannya Tim kita akan selalu kompak dan berkerja keras untuk mewujudkan cita-cita bersama kita.

Adalah sebuah Art Graphic Studio  yang kami dirikan dengan tujuan awal untuk mengarungi dunia penciptaan Game namun tidak menutup kemungkinan untuk mengerjakan Artwork diluar Game seperti brand company, Logo, Mural, etc. Kami akan selalu berusaha untuk mengerjakan semua pekerjaan dengan serius dan memuaskan pelanggan.

Dengan sangat bangga aku mengenalkan nama Art Studio kami  yang akan menjadi identitas kami bersama. T I M E L A B  adalah nama yang akan menyatukan kami.
semoga aku dapat menjelaskan lebih banyak tentang Art Studio kami yang baru di tulisanku yang akan datang. Semangaaatt !


Selasa, 27 Oktober 2015

LOSTAMASTA

                                                             ( design / illustration by imsat )


              Beberapa minggu ini terhitung semenjak aku berada di perguruan tinggi baru, waktu yang ku lalui hari demi hari terasa begitu cepat dan mendebarkan. Memang ini suatu keadaan dan lingkungan yang baru bagiku yang secepat mungkin aku harus beradaptasi untuk menyesuaikan waktu, tenaga, dan istirahatku sendiri.

Barangkali bukan alasan yang tepat jika aku harus mengeluh setiap harinya hanya karena tugas yang bertubi-tubi menderaku padahal aku tidak sendiri, setidaknya ada sekitar empat puluh anak yang merasakan tugas yang sama denganku dan lebih dari seratus lima puluh anak yang merasakan tekanan yang sama denganku hanya dalam lingkup satu angkatan dalam perguruan tinggi di tempatku berada sekarang.

Aku masih beruntung karena tidak banyak tugas yang telah aku kerjakan di kembalikan, namun ada teman sekelasku yang semua tugas yang telah berjumlah empat seluruhnya mengulang dan itupun masih ditambah tugas yang baru, prihatin memang namun kebijakan dari setiap dosen adalah berbeda.

            Mengenai dosen yang sering memulangkan hasil tugas para mahasiswanya menurutku itu bukanlah sesuatu hal yang buruk, namun menambah tugas dengan terus-menerus tanpa memperhatikan beban tugas yang lain justru akan membuat hasil tugas yang dikerjakan para mahasiswa menjadi tidak maksimal dan cenderung asal selesai saja.

Namun dibalik itu semua pasti ada nilai tersirat yang dimaksudkan oleh para pembimbing tersebut untuk menaikkan kelas dan psikologis para mahasiswanya dan aku percaya itu, Namun kadang kita sebagai mahasiswa terlalu disibukkan dengan memikirkan tugas yang diberikan tanpa memikirkan hikmah dari tugas yang diberikan tersebut, dengan alasan memang terlalu banyak tekanan yang dianggap buruk bagi tugas tersebut.

Yasudah lah karena ini memang baru awal dari perjuangan kami untuk menemukan kunci untuk perjalanan kehidupan yang akan datang dan pasti akan kami lalui, seketika teringat salah satu pernyataan dari dosen yang dianggap hobi memberikan tugas, dia pernah berkata " LOSTAMASTA " yang diartikan biarkan " hidup menjadi lebih hidup ". kami memang harus menghidupkan perasaan lelah kami dan berjuang hingga akhir untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan itu berarti menghidupkan kembali rasa suka-cita kami agar dijalani dengan senang dengan lebih hidup. LOSTAMASTA.

Minggu, 27 September 2015

'' keyakinan ''


                                                             ( illustrasi / desain by imsat )


              Terlelap ku dalam gelombang imajiner yang menghanyutkan, terseret gelombang yang begitu deras, keras, dan menyesakkan, ini bukan diriku !

Salah satu yang sangat kuperjuangkan adalah memulai sebuah tindakan dan konsisten dalam hal apapun itu meski kecil, namun nyatanya konsisten itu sangat mahal konsekuensinya. Anehnya aku sadar yang aku lakukan dalam benar ataupun salah, namun seakan menikmati arus sangat sulit untuk melawannya.
Aku ingin tetap yakin dan percaya bahwa diriku dapat selalu konsisten dalam hal apapun itu, jika dirimu sahabatku bantulah aku untuk mengingat kebaikan bersama.

Minggu, 13 September 2015

Cahaya

Cahaya ...
Bukan engkau yang menentukan malam
Tidak pula yang memeras hujan
Entah pula elegi esok yang mendera
Namun terlalu bisa untuk mempengaruhi diri berimaji

Aku tak mengharapkanmu !
Aku dapat berdiri diatas satu kaki
Walaupun sehela aku terjatuh
Namun itu kucukupkan tuk' berdiri kembali
Mengabaikanmu ...

Entahlah sampai kapan,
Bukan waktu yang menentukan, namun hati
Aku selalu dalam jalanku, begitu juga kau
Dan saat jalan kita saling beriringan
Kupastikan tak kan meninggalkanmu.
(imsat)

Reborn

                                                         ( desain & illustrasi by imsat )


               Tidaklah mengenakan bagi kita yang pernah mengalami rasanya tenggelam, semua takut, menyesal, sedih, panik hingga kebingungan yang akan dialami menjadi suatu proses hidup yang berkesan. Namun ketika kita bangkit dan memupuk ulang semangat untuk "hidup kembali" itulah yang menjadi makna sesungguhnya. Kita ditakdirkan untuk jatuh namun menentukan saat kita bangkit untuk kembali berproses menjadi lebih baik, Reborn (imsat)

Selasa, 08 September 2015

"Rak Jelas"

                                                                ( desain/illustrasi by imsat )

             Bagi ku yang memikirkan sebuah hasil karya, karena dalam sebuah ke tidak pastian itu terdapat suatu kepastian yang secara tidak sadar sudah menjadi pilihan, dan begitu juga dalam menciptakan sebuah karya.

Senin, 07 September 2015

Publik Penanggap Seni

                Mengapa ketika sebuah komunitas atau perorangan yang bergerak dibidang seni/kesenian bersemangat mengadakan acara gelar karya / pameran yang dirasa berkualitas bagi para penanggap seni namun faktanya sangat sedikit masyarakat yang tertarik mengunjungi acara tersebut? Mungkin bukan sekedar faktor siapa dan bagaimana kualitas karya yang ditampilkan, namun masih banyak alasan yang harus dijabarkan.

Salah satu sudut pandang yang menarik pembicaraan adalah ketika pada siapa karya seni itu ditujukan dan bagaimana keadaan subjek yang menjadi tujuan penikmat seni tersebut apakah mendapat pengetahuan yang layak dan memadahi sesuai kesenian / karya seni yang di suguhkan pada subjek tersebut ( dalam hal ini masyarakat umum ).

Didalam buku yang sedang saya baca Filsafat Seni oleh Jakob Sumardjo, salah satu syarat karya seni dapat disebut karya seni jika terjadi "Trilogi komunikasi" yang "baik dan benar" antara seniman sebagai subjek pencipta seni, karya seni, dan penerima seni sebagai subjek penerima ( dalam hal ini masyarakat umum ).

Menurutku dari salah satu syarat karya seni bisa disebutnya karya seni tersebut dapat mewakili jawaban mengapa masih kurangnya apresiasi dan atensi masyarakat terhadap kesenian/karya seni sendiri karena memang semua harus saling berkaitan baik antara pencipta, barang kesenian, dan penanggap seni.

Jadi bukan lagi salah satu masalah siapa dan bagaimana yang mengadakan gelaran karya seni tersebut ketika sepinya pengunjung yang menikmati acara gelaran karya seni, tetapi seberapa masyarakat tahu dan tertarik akan karya seni itulah yang memengaruhi jumlah atensi disebuah acara gelaran karya seni.

Karena bagiku sudah terlalu jauh jarak antara masyarakat yang mengerti nilai akan karya seni dengan seniman yang menciptakan karya seni tersebut, bagaimana bisa jika para seniman terus belajar dan meningkatkan ciptaan karya seni mereka dengan sangat baik, namun masyarakat yang notabene sebagai penanggap karya seni secara umum tidak tahu-menahu dan cenderung kurang simpatik pada karya seni dapat saling berhubungan seperti salah satu syarat disebutnya karya seni yaitu "Trilogi komunikasi".

Sebagai contoh bukanah hal yang tabu ketika semasa kecil kita lebih dianggap pintar jika menguasai pelajaran matematis/sains, dan pelajaran seni dikesampingkan begitu saja, ini dibuktikan dengan sampai saat ini porsi waktu belajar mata pelajaran keduanya sangat menunjukkan perbedaan yang bahkan dua atau tiga kali lebih banyak.

Begitu juga dimasyarakat sekarang pada umumnya, pengetahuan kesenian/karya seni dianggap tidak lebih berguna dari informasi terbaru politik jaman sekarang, padahal sebuah kebudayaan terbentuk dari karya seni yang secara berturut-turut dilakukan masyarakat secara bersama-sama yang membentuk kebiasaan dan menjadi budaya bagi masyarakat tersebut.

Jika begitu sedikit kenyataan yang ada, tidaklah mengherankan jika "Trilogi komunikasi" sebagai syarat dapat disebutnya sebuah karya seni tidak terpenuhi dengan baik dan benar, maka tidak mengherankan bahwa setiap gelaran karya seni yang ada akan terasa hambar dan anti klimaks bagi para seniman yang merasakannya.

Akhirnya dengan catatan ini kita tahu bahwa memang ada yang salah dari kegiatan gelaran karya seni yang telah banyak dilakukan para seniman ini, bahwa mengedukasi para penanggap seni dalam hal ini masyarakat adalah sangat penting, sebagai seniman yang baik tugas besarnya adalah banyak mengedukasi para penanggap seni untuk membagikan nilai-nilai karya seni yang baik dengan cara-cara kreatif agar dapat diterima pada semua kalangan masyarakat.

 Karena sebanyak, setinggi, dan sebagus apapun nila yang ingin disampaikan pada karya seni yang diciptakan oleh para seniman, jika masyarakat masih awam terhadap nilai seni maka akan banyak mereduksi nilai yang ada dalam karya tersebut dan mungkin hanya sebagian para penanggap seni saja yang akan dapat menikmati karya seni tersebut secara utuh. ( imsat )





Jumat, 28 Agustus 2015

Tulislah

                Jika saat ini banyak orang membicarakan narkotika, jika sekarang ini bangsa kita mendapat julukan baby smoker dunia, jika pula masih banyak penggusuran, pembunuhan, korupsi, prostitusi, bahkan eksploitasi dan lain sebagainya di dalam masyarakat bangsa kita, lalu seberapa besarkan yang membicarakan kesenian dan kebersamaan?

Berbicara seni seperti anak tiri yang dibicarakan ibu angkatnya, seperti menangkap asap dll. "baik diucap lenyap sekejap". Sudahlah alihkan saja pembahasan ini karena bukan saat yang tepat membicarakannya, karena saat ini aku hanya ingin menulis!

Siapa bilang menulis itu mudah? tidak sama sekali jika tidak langsung memulainnya !
untuk menggerakan jari-jemariku diatas keyboard ini aku sudah memikirkannya sejak subuh, dan ini sudah menunjukkan pukul 10.42 aku baru memulainnya, susah bukan hanya untuk tulisan sekelas ini!

                 Aku punya satu buku yang belum habis ku baca tentang " kekuatan menulis ", disana dibahas tentang tips & trik menulis, dan semua bab yang sudah aku bahas sebagian besar hanya menganjurkan untuk segeralah menulis. dan saat ini pun aku mempraktekannya, aku hanya ingin menulis dan tulislah.

Tapi saat ini setelah aku pikirkan kembali tentang tips menulis yang aku baca dibuku tersebut ternyata ada benarnya juga, kita tidak akan dapat menulis jika hanya memikirkannya saja, kita harus menulis sambil berfikir, dan tanpa sadar kita telah menulis sebuah tulisan.

Aku sangat terlalu banyak memikirkan sesuatu tanpa sadar waktuku habis hanya untuk berfikir, sedangkan menulis dituntut untuk lebih dulu bertindak lalu berfikir dalam artian kita harus memulai menulis dahulu kemudian baru diselangi dengan berfikir secara bersamaan, dan hal itu menjadi sangat baru bagi caraku bertindak dan memulai sesuatu, namun ternyata sangat efektif.

Begitu juga dengan memulai bidang kesenian yang lain, ternyata kita dituntut untuk bertindak dahulu baru diselangi berfikir untuk menemukan sesuatu yang baru dalam artian menggali kreatifitas, ya mungkin benar untuk memunculkan kreatifitas kita juga harus perlu rangsangan yang baik juga kan, dan langkah awal untuk merangsang kreatifitas adalah melakukan langkah awal untuk memulai kegiatan tersebut,

            Sekarang aku jadi tersadar akan perjuangan disiplin yang sangat kuat yang telah diterapkan orang-orang yang telah sukses menekuni dunia kreatifitas baik itu seni visual, sastra, musik, ataupun yang lainnya, mereka melakukan langkah awal yang sangat hebat setiap harinya dengan dipupuk komitmen dengan disiplin diri yang sangat tinggi untuk menyelesaikan karya kreatif mereka dari awal.

Mungkin pelajaran yang dapat aku petik dalam tulisanku kali ini adalah setiap orang besar pasti memiliki disiplin diri tinggi yang telah diterapkan pada dirinya, dan dipupuk dengan komitmen yang selalu menguatkannya untuk menyelesaikan karyanya dengan sebaik mungkin. Dan hal ini dapat menjadi pembelajaran baik terhadap diriku sendiri dan mungkin orang yang telah membaca tulisan kecilku ini. Terimakasih atas atensi yang telah diberikan. :)